Aku sedang duduk bersender di kursi kayu entah kursi keluaran apa yang tentunya aku tidak suka dengan desainnya, kursi ini terlalu keras untuk menjadi kursi, dan desainnya memaksaku harus berdiri tegak setiap saat, hari ini sangat melelahkan dan aku rasa itu cukup menjadi alasan untuk aku duduk menyender ke kursi. Sungguh aku tidak berlebih-lebihan. Kenapa hari ini sangat membosankan dan aneh ya? Apakah kalian pernah merasakan dimana emosional kita sedang tidak sejalan dengan logika otak kita? Otakku berputar menyuruhku untuk mengerjakan tugas dan belajar tetapi emosionalku memberi emosi yang tidak stabil dari segala arah, walaupun demikian, tetap saja aku paksa jalani aktivitas mengerjakan tugasku sambil sedikit-sedikit bergumam megucapkan kata-kata kasar agar sedikit melampiaskan emosiku. Aktivitasku hanya berkutik sekitar gerakan telunjuk jari untuk memencet mouse dan jari tangan lainnya untuk mengetik keyboard.
Tidak jarang fokusku seketika terpecah, aku mulai mengedipkan mata kebingungan kenapa aku malah sedang buka instagram. Aku pribadi sangat tidak suka main instagram, bahkan aku sering jijik dengan diri sendiri kenapa aku sempat memiliki 2nd account instagram. Simpelnya sih seperti ini, sosial media seperti instagram bukan untuk mempermudah menjangkau teman-teman lamaku, apabila memang aku rasa aku ingin menjangkau teman-teman lamaku tentu saja aku jangkau via WhatsApp. Dan seperti yang kita tahu, sosial media memberi informasi membludak seperti membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi dari yang penting hingga tidak penting, semuanya ada disitu. Untuk kalian yang mengenalku dan memfollow instagramku, bukan aku bersifat narsis untuk tidak memfollow kembali, aku hanya sudah nyaman dengan akun yang aku follow sesedikit itu, berandaku dipenuhi dengan foto flora & fauna dari natgeographic dan beberapa berita mengenai iklim, pergantian cuaca, global warming, dan inovasi unik orang dalam mencegah climate change. Tidak seperti berita yang kita lihat saat menonton televisi tentunya, seperti memberi udara sejuk ke otakku.
Bukan aku ingin menceramahi kalian, otak kita berfikir sesuai apa yang otak kita konsumsi dalam keseharian. Ini pula bukan blog berisi motivasi tapi setidaknya aku ingin menekankan, lebih baik kita isi otak kita dengan hal yang baik dan tentunya penting untuk kita. Janganlah menjadi tipe orang yang mudah meledak hanya dengan melihat akun instagram seseorang, semua orang bebas berekspresi selagi tidak melanggar aturan dan norma, tugas kita hanya mengecilkan porsi peduli kita ke hal-hal yang menurut kita penting. Dan tentunya “hal penting” setiap kita berbeda-beda.
Di usiaku yang 18 ini, aku seringkali membayangkan kehidupan tanpa sosial media walaupun itu sudah tidak mungkin. Aku rasa banyak hal baik yang kita bisa petik apabila hal itu diterapkan dalam suatu komunitas, aku sempat pula melihat orang di YouTube melakukan eksperimen berjudul “Screenless Saturday”, jadi pada video tersebut, mereka melakukan aktivitas tanpa menggunakan HP sedikitpun. Aku rasa itu hal yang menyenangkan untuk dilakukan karena dari video dokumentasi mereka, mereka tampak lebih senang dalam melakukan eksperimen tersebut, seperti memberi koneksi batin seribu kali lipat lebih kuat dalam sehari.
Mungkin dari sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku sudah malas dalam dunia digital per-sosmed-an ini. Aku melakukan detox hingga aku sendiri lupa sudah berapa lama aku melakukan detox instagram. Banyak hal yang membuatku berubah, itu baik buatku dan tentunya itu baik buat kalian yang ingin mencobanya. Memang ada eberapa kekurangan seperti FOMO( Fear Of Missing Out) , tidak mengetahui kabar baru teman kalian, dan hal lainnya, Akan tetapi, menurutku ada satu kekurangan yang sangat aku benci, agar mudah dipahami, aku akan bernarasi dengan bentuk cerita.
Suatu hari Rizal dipenjara dalam kurungan 1 minggu, selama 1 minggu penuh Rizal dimasukki ke sel paling menyeramkan yang pernah ada, Rizal tidak bisa tidur, tidak bisa duduk dengan nyaman, tidak makan, tidak minum, pokoknya tidak ada aktivitas yang bisa ia lakukan. Dari sudut pandang Rizal, itu adalah 1 minggu paling panjang dan paling menyeramkan dalam hidup dia. Mungkin dia bisa saja nangis-nangis memohon lepas secepatnya berjanji akan berbuat baik kepada semua orang dan tidak membenci satu pun orang karena dia stres tidak memiliki teman berbicara. Ketika waktu Rizal dibebaskan dari sel, ia mulai senang kegirangan karena banyak hal dari ia tidak sangka bahwa ia melewatkan momen gila tersebut hingga ia ingin memulai hidup lebih baik dengan tidak membenci orang sama sekali. Akhirnya ketika Rizal menghentakkan kakinya ke jalan raya ia mulai bersenyum ke semua orang, menyapa, dan melakukan semua hal baik
Di sisi yang lain, para pejalan kaki tidak semuanya baik, banyakan dari mereka mengetawakan Rizal karena sikapnya yang tidak biasa mereka lihat (senyum dan menyapa semua orang yang ia lewati) dan bahkan ada yang terlalu kejam untuk mengadu ke polisi mengira Rizal adalah pedophile karena memberi senyuman trus menerus.
Dalam konteks detox sosmed kurang lebih seperti ini, ketika kita tidak melihat kabar teman kita dalam waktu yang lama kita mulai merasa kangen, bahkan aku pribadi merindukan semua orang termasuk orang yang sempat menjadi makhluk termenyebalkan yang selalu menginjak-injak aku waktu dulu, aku memaafkan hal tersebut dan aku rasanya ingin setidaknya mengetahui kabar mereka. Tapi ya kenyataan tidak berkata seperti itu, ketika aku mengirim pesan dengan makna tersirat “Aku ingin mengetahui kabarmu karena aku merindukanmu”, respon orang pasti seperti ini. Jika orang itu teman kita yang lawan jenis, dia mengira kita suka dengan dia. Jika orang tersebut teman lama kita yang sejenis, dia mengira kita ada maunya. Aku tidak tahu, ini hanya mayoritas apa yang aku rasakan dan tentunya hasil ini tidak valid, atau memang aku tidak memiliki teman dari awal waktu jadi orang yang aku kirim pesan tersebut terasa ada yang aneh.