Alexa Haji Naman

Lihat, jam sudah menunjuk setengah 4 pagi! Beberapa jam lagi aku akan menghadapi ujian namun saat ini aku malah risih mempermasalahkan kipas angin yang tidak mengarah kepada ku saat posisiku terbaring di kasur. Waktu yang sangat pas untuk menjalani kehidupan disfungsional gaya anak kuliah. Aku hitung-hitung sudah 2 jam lebih aku berbaring menatap langit-langit kamar dengan bibir yang terus bergumam membicarakan semua hal, terkadang sedikit tertawa senang menertawakan nasib kehidupanku yang sudah lewat. Percaya atau tidak, rutinitas ritual monolog internal seperti ini sudah melekat kurang lebih seminggu, dan aku cukup nyaman akan hal ini. Selagi pikiranku melayang 100 cabang dan aku terus bergumam tidak berhenti perlahan-lahan aku kelelahan dan akhirnya, aku tertidur.

Dua ujian mata kuliah dimulai dari jam 7 pagi hingga jam setengah 1 siang. Wow lihat, mukaku seperti zombie kelaparan persis seperti di game Plant vs Zombies. Tidak, aku tidak bisa tidur, aku harus melanjutkan essay 2021 kata yang aku tunda kemarin. Aku mulai mengumpulkan ambisi dan tanganku mulai mengetik cepat di keyboard. Ternyata ketikan itu mengarah ke youtube untuk mengetik lagu Naruto. Hebat sekali, setidaknya waktu tersebut bisa aku gunakan untuk tidur. Apa? Tidur? Aku bisa tertidur pulas ketika aku mati bodoh! Melihat kembali jam beker kecilku mengingatkan bahwa Jam 4 sore nanti ada acara ulang tahun temanku. Sudah alasan yang pas untuk tidak tertidur, karena kalau aku tertidur aku bisa menghilangkan momen penting.

Sekian jam berlalu saat acara ulang tahun temanku, tidak ada momen spesial dalam acara ulang tahun tersebut. Walaupun tidak ada yang spesial, setidaknya tidak ada hal yang menyebalkan, jadi aku cukup berterimakasih tidak ada hal aneh perayaan ulang tahun pada umumnya seperti melempar telor, tepung, garam, keju, dan semua ritual aneh surprise ulang tahun angkatan bocah SD baru naik SMP. Ada yang cukup unik pada momen ini. Dari awal aku melihat mukanya yang penuh cengengesan, aku bisa tebak bahwa orang ini adalah badut-kelas di sekolahnya. Haha benar, tidak sampai hitungan beberapa menit, mimik mukanya berubah dengan cepat membentuk ekspresi konyol ditambah intosai khas dia merespon obrolan orang-orang, aku cukup terhibur, sudah lama tidak bertemu orang macam ini. Tapi ada yang unik dengan makhluk berpotongan rambut afro ini. Bukan hanya rambut afronya yang enak dilihat seperti Felainni, dia sempat mengeluarkan perkataan berbunyi tentang kepercayadirian dia mendapat IP kuliah 3,6 atau 3,8. Aku sedikit tercengang menjatuhkan daguku beberapa sentimeter kebawah. Rasanya aku ingin mengintrogasi dia kenapa bisa badut cengengesan seperti ini sangat percaya diri dengan nilai akademisnya, tetapi lagi-lagi aku tahan reaksi tersebut. Tidak sempat aku menyelak dengan kata, tak lama kemudian sang badut ini menceritakan sejarah abad kegelapan(Renaissance) dengan bahasa tongkrongan yang terdengar konyol tapi mudah dimengerti. Jujur, ini adalah spesies langka yang aku cari bertahun-tahun. Langsung tanpa basa-basi aku sambungkan dengan percakapan gaya anak tongkrongan sok asik. Frekuensi kita lumayan nyambung, dari skala 1 sampai 10, aku bisa nilai lebih dari 5.

Situasi pandemi saat ini sedang gempor-gempornya dan aku cukup takut akan hal tersebut. Aku memutuskan untuk menjumpai satu dari sekian guruku dalam mempelajari ilmu kehidupan. Bakerlatief nama orang tersebut. Hari sudah malam dan aku rasa fisikku sudah berevolusi menjadi jasad yang terpisah berjalan dengan ruh yang melayang ringan dekat dengan jasadku. Setelah sampai di tempat, akhirnya aku berjalan mendekati gerombolan anak muda 2 tahun diatasku alias senior SMAku. Aku beri sambutan hangat berupa tangan kanan hormat persis seperti siswa sedang upacara ,entah kenapa aku lakukan itu aku juga tidak tau. Percakapan dimulai dari membahas proyek-proyek gagal yang aku pribadi dan Baker laksanakan selama pandemi. Dari situ kita saling cerita mengenai cerita yang dekat dengan lingkaran pergaulan kita. Haha, tidak aku sangka aku ketinggalan banyak cerita. Cerita yang aku dengar setidaknya sudah lewat satu atau dua bulan dan aku baru mengetahuinya sekarang. Sungguh aku ingin bertanya sudah berapa lama aku hidup di bawah batu. Beberapa dari cerita tersebut lumayan lebih dari ekspektasi tapi aku sempat menduganya, jadi ya wajar-wajar saja hal aneh itu kejadian. Cerita yang aku maksud daritadi adalah mengenai bisnis. Mendengar beberapa proyek seniorku selama di SMA, aku cukup terharu. Saat aku masih berseragam SMA, aku melihat mereka sebagai pahlawan pemberi pendidikan tentang kerasnya dunia. Saat ini, aku memandangi wajah mereka satu per satu dan perlahan mendengar serta ikut campur dengan obrolan mereka. Nilai baik akan selalu datang apabila kita mencari nilai baik, aku ingat sekali ketika tahun pertamaku di SMA, terkadang aku melihat mereka hanya sebatas senior yang gila hormat. Namun nyatanya aku yang salah, aku sekarang mendapat jawaban dari keseharianku selama SMA tidak pernah berhenti menyapa mereka apabila ada momen berhadapan dengan mereka di lorong sekolah. Sekarang aku menjadi akrab dengan mereka, aku bisa dengan mudah meresap semua nilai kebaikan dari obrolan mereka seperti spons baru yang menyerap air.

Di pertengahan obrolan, Baker sempat memberhentikan obrolan dan mengamati barista toko kopi melakukan prosedur pembuatan kopi yang aku rasa itu cukup menarik perhatian dia. Baker ini barista juga di salah satu toko kopi jatiwaringin, jadi tak heran hal kecil seperti ini bisa menarik perhatian dia. Baker memasang muka fokus. Mengamati barista dalam ruangan. Tak lama kemudian dia mengucapkan sesuatu. “Rambut gondrongnya aneh sekali”, ucap Baker dengan senyuman khas pada mukanya. Sial, aku kira dia sedang mengamati baristanya. Teman yang duduk di sebelahnya bernama Luthfi, dia ternyata orang yang mengamati cara barista tersebut membuat kopi dengan gaya unik. Tentu aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku bukan barista. Cukup menakjubkan melihat mereka berdua kompak menghentikan obrolan dan seketika fokus melihat barista tanpa mengucapkan satu pun kata. Seperti ada chemistry unik dari mereka berdua. Itulah hal unik dalam pertemanan yang sedikit orang bisa dapat.

Baker ini salah satu sosok unik yang aku temukan di kehidupanku. Aku ingat persis gaya hidup disfungsional dia sebagai SMA yang dengan santainya masuk sekolah siang, menggenakan tas converse abu-abu, dengan celana pinsil warna abu-abu terang dan dalaman baju hitam, menutup wajahnya dengan masker diiringi headset yang menyangkut pada telinganya serta tongkat payung pada tangan kanannya yang tidak ada bagian peneduh hujannya. Dia berjalan di lorong sekolah sambil memutarkan tongkat gagang payung gaya anak marching band seolah ingin menyikat siapapun yang akan beraninya menghalang jalan dia. Poninya lumayan panjang, jadi matanya sedikit tertutup rambut, dan seingatku matanya pasti terlihat merah. Aku lumayan takut berinteraksi dengan makhluk berpenampilan seperti ini saat aku SMA. Namun nyatanya, penampilan bukan segalanya. Baker menunjukan sikap solidaritas tinggi, gaya selengean dipenuhi etika, dan gaya bucin dia yang unik saat itu. Secara tidak langsung, aku menerapkan sikap tersebut padaku. Saat ini aku merasa bahwa ada genetik reinkarnasi Bakerlatief dalam diriku lebih dari setengah persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *